Ternyata ibadah itu tidak hanya asal dikerjakan, tetapi waktunya juga harus dijaga. Firman Allah innaman nasii-u ziyaadatun fil kufr ~ sesungguhnya menunda-nunda itu menambah kekufuran.
Dari 5 rukun Islam, hanya sholat yang tidak kenal ampun, maksudnya tidak ada alasan untuk tidak dikerjakan. Dan harus pada rentang waktunya pula.
Berbeda dengan haji yang baru wajib dikerjakan bagi yang sudah mampu. Sedangkan sholat tidak mengenal tidak mampu. Tidak ada pengecualian. Bagi yang sakit super berat, sholat harus jalan terus. Sambil duduk, atau berbaring, bahkan cukup dengan isyarat mata jika anggota badan tidak bisa digerakkan.
Puasa bisa diganti fid-yah, bisa dibayar di lain waktu, bahkan dibayar ahli waris. Sholat tidak bisa. Harus dikerjakan sendiri. Zakat ada perhitungan nishob yang lumayan rumit, sedangkan nishob sholat sangat simpel: perintah anak umur 6 tahun, jitak anak umur 9 tahun. Sederhana, bukan? Tentunya dengan pukulan ringan yang tidak melukai dengan maksud untuk mendidik, bukan dengan tempeleng yang membuat anak semaput.
Apakah setelah mengerjakan sholat semuanya otomatis oke? Ternyata tidak.
Wailul lil musholliina ~ Neraka Wail bagi orang yang sholat.
Alladzina hum ‘an sholaatihim saahuun ~ yaitu orang yang sholatnya lalai.
Jadi jelas, sholat tidak hanya wajib dikerjakan, tetapi juga wajib dijaga waktunya. Dikerjakan tetapi telat, itulah buah dari yang namanya Menunda-nunda. Dalam terminologi Time Management alias Manajemen Waktu, disebut Procrastination.
Bagaimana dengan ibadah dan pekerjaan lainnya?